Genggam Erat Masa Depanmu
~“Jadi,
apa keputusanmu?”, kini Ibuku yang berujar.
‘Kenapa mereka selalu mendesakku untuk memberi keputusan secepat ini!’, runtukku
dalam hati.
Namaku Dipra,
lebih lengkapnya Dipratiwi Azzahra. Usiaku baru
menginjak 15 tahun, dan yang tadi itu merupakan sedikit dari banyaknya
obrolanku dengan kedua Orang Tuaku, topik yang kami bicarakan tidak jauh-jauh
dari yang namanya “sekolah baru yang ingin ku masuki”. Selalu itu topiknya,
padahal pengumuman ujian kelulusanku pun belum keluar dari sekolah SMP ku, saat
ini sih aku ‘masih’ terdaftar sebagai salah seorang siswa
SMP yang cukup favorit di daerahku, nama sekolahku adalah SMP Maddal
Baku, Blumman Raya. Jika aku ditanya, ‘ manakah sekolah yang ingin kumasuki
nanti?’ Maka jawabannya adalah ‘bingung, gak tau, dan pusing’. Ya! Aku masih
bingung menentukan sekolah baruku nanti, dan aku juga pusing karena selalu ditanyai
pertanyaan-pertanyaan yang ngebuat aku terdiam untuk ngejawabnya. Mereka mendesakku!.
Sebenarnya, aku sudah memiliki pilihan sekolah baruku nanti, tapi aku masih
ragu, takutnya apa yang aku harapkan tidak sama dengan keinginan orang tua.
“Dip,
apakah kamu akan diam terus dan tidak mau memberitahu kami bahwa kamu akan
melanjutkan kesekolah mana?”, Kata Ayah.
“Bukan seperti itu Yah, tapi Dipra
masih takut salah ambil keputusan, dan Dipra takut nanti sekolah yang ingin Dipra
masuki tidak sama seperti apa yang Ayah dan Bunda inginkan.”, tuturku.
“Bagaimana Ayah dan Bunda akan
mempertimbangkan kamu layak atau tidak disekolah barumu nanti jika kamu saja
masih enggan untuk memberitahukannya kepada kami? Ayolah Nak, cerita saja
dengan kami, kita bisa saling tukar pendapat dan bisa mencarikan sekolah yang terbaik serta cocok untuk kamu?”, Ujar Ayah
‘Yasudahlah, apa
boleh buat, mungkin aku harus menuruti perkataan Ayah dan Bunda, agar aku juga
nggak bingung lagi untuk nentuin masuk kesekolah mana.’ Ujarku dalam hati.
“Gini Yah, Dipra sebenernya udah
punya target mau masuk kesekolah mana, tapi Dipra masih ragu dan takut
ngomongnya ke Ayah dan Bunda.” Tuturku.
“Ya Allah, ngapain takut Dip? Ayah
dan Bunda udah nunggu-nunggu keputusan kamu. Coba kasih tau ke kami, Dipra mau masuk mana, kali
ini Ayah mohon untuk Dipra jawab yang jujur!” Tegas Ayah.
“Dipra mau masuk ke SMA Harapan
Tunas Jaya 2 Yah, karena Dipra rasa, Dipra sanggup masuk kesitu dan Dipra juga
ngerasa bakal betah bersekolah disitu. Gimana menurut Ayah?” Ujarku dengan
harap-harap cemas.
Kulihat, raut
wajah Ayah tampak ragu dan kurang yakin dengan pilihanku.
“Kamu yakin ingin masuk sana Dip?
Padahalkan ada sekolah yang lebih bagus daripada SMA Harapan Tunas Jaya 2?
Misalnya seperti SMA Harapan Tunas Jaya 1, itukan bidang pendidikannya sudah
diakui lebih unggul dan akreditasnya lebih tinggi dibandingkan dengan SMA
Harapan Tunas Jaya 2?” Kata Ayah.
Jackpot! Sudah
kuduga, Ayah pasti akan menolak aku masuk ke Harapan Tunas Jaya 2, emang aku
akui sih, Harapan Tunas Jaya 1 lebih unggul dan lebih banyak memberikan
prestasi dibidang pendidikannya, tapi entah kenapa aku ingin sekali masuk ke
Harapan Tunas Jaya 2 ketimbang Harapan Tunas Jaya 1. Tapi, daripada aku harus
membangkangkang sama Orang Tua dan aku juga gak mau ngebuat Orang Tua kecewa,
lebih baik aku terima tawaran Ayah, siapa tau ini memang sudah jalanku untuk
masuk ke Harapan tunas Jaya 1.
“Sebenernya, Dipra kurang suka
dengan Harapan Tunas Jaya 1 Yah, tapi Dipra juga nggak mau dibilang sebagai
anak yang ngebangkang Orang Tua, jadi Dipra usahain, Dipra akan ikut saran dari
Ayah dan Bunda, dan Dipra juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat
masuk sana.” Ujarku dengan sedikit lesu.
Lain yang dipikirkan Dipra lain pula
dengan pemikiran sang ayah, sebenarnya Ayah tidak ingin memaksakan sang anak
apalagi sampai membuatnya tertekan, namun Ayah sangat menginginkan sang anak
untuk dapat menimba ilmu ditempat yang
pas. Dan Ayah juga mengetahui keberatan hati anaknya untuk bersekolah
ditempat yang telah ia tetapkan, tapi
apa boleh buat, ia sudah terlanjur menginginkan anaknya bersekolah di tempat
yang sudah ia pikirkan matang-matang.
“Dipra, Ayah tahu kamu tidak
menginginkan bersekolah disitu, tapi Ayah mohon untuk turuti keinginan Ayah,
dan juga Ayah yakin bahwa kamu dapat betah bersekolah disana.” Tutur Ayah.
‘Apa boleh buat,
percuma juga kan untuk mencoba melakukan pembelaan diri jika ujung-ujungnya gak
bakalan diizini disekolah impianku.’ ~ Ujarku dalam hati.
“Hmm.. Baiklah Yah”, Tuturku dengan
lesu.
Dan hari kelulusan SMP Maddal Baku pun
tiba, semua siswa dan para Orang Tuanya pun berdatangan untuk mengetahui hasil
kelulusan, tak terkecuali pula dengan Dipra dan kedua Orang Tua nya. Dipra
sendiri, merasa gugup dan ragu untuk mengetahui hasil akhirnya, apakah dia
lulus atau tidak. Sedangkan kedua Orang Tua Dipra tampak santai dan yakin
bahwasannya anak mereka akan lulus dan bisa dibanggakan, Ayah Diprapun
menghampiri Sang Anak.
“Sudah jangan gugup, santai saja,
kamu pasti lulus kok.” Ujar Ayah dengan seulas senyuman.
“Hehe.. Iya Yah, tapi aku sedikit
takut untuk mengetahui hasilnya.” Tutur Dipra dengan gusar.
“Kamu bisa kok, percaya pada diri
sendiri aja Dip, itu lebih baik.” Tutur Ayah.
Dipra memilih diam dan fokus untuk
mendengarkan arahan dari Kepala Sekolah dan juga ia akan mengetahui hasil nya
sebentar lagi.
Papan ujian kelulusan keluar dan para siswa pun berhamburan untuk melihat apakah nama mereka
lulus atau tidak, tak terkecuali pula dengan Dipra, iya harap-harap cemas untuk mengetahui hasilnya. Dan,
betapa terkejutnya Dipra mengetahui bahwa nama dia berada diposisi orang-orang yang
lulus dan namanya berada di peringkat atas dengan nilai yang cukup memuaskan. Dipra langsung meng hambur ke
Orang Tuanya dan menangis tersedu-sedu dengan tangisan bahagia.
“Ayah, Ibu, aku lulus” Ucapnya dengan wajah
yang sumringah
“Kami tahu kamu pasti bisa Nak,
sekarang siapkan dirimu untuk testing masuk kesekolah barumu ya.”Ujar sang Ayah.
“Hmm..Pasti Yah,
doakan supaya aku bisa masuk ya Ayah, Bunda.”Tutur Dipra.
~ketikamemasukisekolahbaru~
“GimanaDip, siap?” Ujar Ayah.
“Huft, siap Yah.”
Setelah melakukan beberapa kali testing
dan telah mengikuti berbagai macam arahan, akhirnya keputusan untuk penerimaan siswa baru pun keluar.
Awalnya Dipra tak ingin untuk melihat hasilnya, ia malah menyuruh Ayahnya
melihat hasil, namun sang Ayah menolaknya, jadilah ia yang dengan terpaksa
melihat hasil pengumumannya.
‘Duh gimana nih, sudah di nmr 100-an
siswa yang lulus kenapa namaku gak ada’ Ujarnya dengan pesimis didalam hati.
Namun ketika sampai dinmr 200-an ia melihat ada namanya tertera dikertas
pengumuman.
“Ayah, Yah, lihat itu, aku lulus
Yah, aku berhasil masuk ke SMA Harapan Tunas Jaya 1, aku berhasil ikut saran
Ayah dan Bunda.” Tuturku dengan amat sangat senang.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu
berhasil membuktikan bahwa kamu itu layak masuk disini dan bisa bersaing
diantara teman-temanmu yang lain, selamat berjuang anakku, doa kami selalu
menyertaimu. Setelah ini, bersiaplah untuk menghadapi kehidupan barumu dengan
bijak ya Nak .” Ujar Ayah dengan wajah yang bangga.
“Baik Yah, aku akan terus semangat
dan bakal ngebanggai kalian.” Ujarku dengan nada bahagia.
“Bagus, itu baru anak Ayah.” Ujar
Ayahku.
Lalu kamipun
tertawa bahagia, mengingat aku telah melewati masa sulit yang semua orang belum
tentu bisa melewatinya.
~The end~