Ridho Mama Membawaku Ke Jalan Surga Ini
”Nak, kamu kan sudah selesai menghadapi UN(Ujian Nasional), jadi kapan kamu hijrah nak? Kapan kamu mau berhijab dengan benar?” pertanyaan Mamaku yang selalu sama setiap harinya selama seminggu setelah aku menyelesaikan ujian akhir masa SMP ku.
“Iya Ma. Nanti ada waktunya.” Jawabku singkat
“Iya iya saja. Tapi kapan nak? Mama tidak mau tahu, kamu harus masuk di sekolah MAN 1 Medan agar kamu dapat berhijab dengan benar dan tahu akan agama yang dalam.” Ujar Mama seakan memaksaku.
“Tapi Maaa.”
“Tidak. Kalau kamu menolaknya, Mama tidak mau mengurusi keperluan dan segalanya tentang kamu nak.” Tegas Mama kemudian meninggalkanku seorang diri di ruang televisi.
Bagaimana ini, aku terpaksa harus sekolah dipilihan Mama. Tapi sekolah itu pasti orang nya berjilbab besar, atau bahkan bercadar. Allaahu akbar!! Mana sanggup aku berada dilingkungan orang seperti itu.
Kini aku telah menyelesaikan seluruh berkas dan proses pendaftaran serta pengumuman hasil tes seleksi masuk sekolah MAN 1 Medan. Dan hasilnya, aku dinyatakan lulus meskipun di peringkat 101. Mamaku begitus senang hingga meneteskan air matanya saat mendengarku berkata bahwa aku dinyatakan LULUS masuk sekolah yang di inginkan Mamaku.
“Akhirnya nak. Selamat ya sayang, kamu diterima disekolah tersebut.” Kata Mama
“Iya Ma.” Aku pun jadi ikut terharu melihat Mama begitu senangnya. Baru detik ini aku merasakan bagaimana rasanya melihat seorang Ibu bangga melihat anaknya menjadi seperti yang dia inginkan.
“Jadi kapan kamu mau berhijab dengan benar dan istiqomah nak?”
Lagi dan lagi, pertanyaan itu keluar dari mulut orang yang sangat ku sayangi. Aku seakan menjadi beku yang tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya diam karna tidak mendapat jawaban dari benak ku. Kini yang ku rasa hanya ucapan syukur kepada Tuhanku karna aku bisa mendapat suasana dimana Mama bangga terhadapku.
“Nak, Mama menginginkan kamu sekolah di sana karna Mama ingin melihat anak Mama cantik berkerudung menutup aurat sesuai syari’at. Karna Mama tidak mau kamu menjadi wanita yang tidak baik seperti di luar sana. Nanti kalau orangtua kamu sudah tidak ada, siapa yang akan menyelamatkan kami dari siksa api neraka nak? Hanya kamu nak, yang Mama harapkan. Jadi kapan kamu mau memulai berhiab dengan benar nak? “ Jelas Mama panjang lebar
Seketika itu juga aku seperti di gugur hujan deras, hati ku menjadi terkejut kedinginan
mendengar perkataan Mama. Aku tak bisa berkata dengan lisannya, tetapi hatiku berucap
“iya Ma, untuk Mama aku siap berhijab menutup aurat dengan syari’at dan aku siap untuk mendalami ilmu agama.”
Langkah kaki ku kini telah memasuki sekolah baruku, dan disini aku mengenal yang namanya KKD(Kursus Kader Da’wah), rohis yang ada di sekolahku itu. Membaca kata
“Da’wah” aku berpikir bahwa disini aku pasti akan berubah sesuai impian Mama.
“Nak, akhir-akhir ini Mama perhatikan kamu sudah berubah. Sudah berhijab sesuai syari’at. Mama benar bangga padamu nak. Jangan berhenti ya nak. Dan ngaji nya jangan lupa ya nak.” Ujar Mama sambil tersenyum kepadaku
“InsyaAllaah Mama.” Membalas senyumnya
Memasuki dan mengikuti rohis(KKD) ternyata benar, aku dapat menjadi lebih baik karna Tuhanku. Sebagai tanda perubahanku saat teman-teman rumahku sering menyapaku dengan sapaan Ustaadzah, bahkan mengarah dengan ejekan yang berkata bahwa yang kukena kan sehari-hari bukanlah hijab, melainkan taplak meja yang begitu besar. Haha
Hingga saat ini aku masih mendengar sebutan dan ejekan itu. Tak ku hiraukan perkataan mereka, karna ku lakukan ini dari Ridho Mama ku menuju Ridho Tuhanku. Menuju lebih baik agar aku siap bertempur menghadapi kerasnya ujian dan ku dapat membantu umat yang tertindas, meskipun aku wanita tak pupus harapanku karna seorang wanitapun harus berpendidikan ilmu pengetahuan dan ilmu agama agar dapat mencetak didikan yang berkualitas untuk bangsa ini.
Aku sangat bersyukur kepada takdir yang telah digariskan Tuhan untukku. Mama yang mengarahkan ku hingga jalan terbuka seluas laut. Oleh sebab itu, jangan menoleh ke lain ketika Mama telah berkata suatu hal kepada kita, karna ketika Mama kita ridho, jalan yang kita capai akan lebih mudah digapai dan sebaliknya, jika kita bantah maka keburukan akan menerpa.
Comments
Post a Comment